Kamis, 06 Oktober 2016

Contoh kerajinan tangan dari botol bekas

Pot Lucu
kerajinan dari botol plastik (33)
Pemanfaatan botol plastik sebagai pot. Pot lucu dari botol plastik
Bahan dan alat: Botol plastik, gunting, Tutup Botol, Kancing, Benang, dll
Tingkat kesulitan: Mudah

 Vas Bunga Unik
kerajinan dari botol plastik (35)
vas bunga dari botol plastik yang sangat unik
Bahan dan alat: Botol plastik, gunting, benang wool, dll
Tingkat kesulitan: Menengah

Jumat, 30 September 2016

perajinan tangan dari botol plastik

Kerajinan Tangan dari Botol Plastik Bekas: Tempat Pensil

Botol Plastik Bekas dan Tempat Pensil

Botol plastik sangat mudah dibentuk menjadi berbagai macam barang kerajinan tangan . Selain mudah didapat dan mengurangi kerusakan lingkungan karena kita ketahui sampai plastik sangat sulit hancur dan diuraikan oleh alam. Karena itu pemafaatan sampah dari botol plastik bekas dari minuman ringan (softdrink) ini sangat bagus dikenalkan kepada anak-anak di sekolah. Karena cara pembuatannya sangat mudah, maka anak-anak SD kelas 5 atau 6 mungkin sudah dapat membuatnya, apalagi anak-anak yang telah duduk di bangku SPM.

Tempat pensil tentunya menjadi kebutuhan bagi semua siswa karena dapat membantu mereka mengorganisir dan merapikan meja belajar, selain tentu menambah nilai estetika ata keindahan kamar. Coba, anak mana yang tidak akan bangga dengan tempat pensil buatannya sendiri?

Lihatlah tempat pensil pada gambar ini. Bagus bukan? Nah, pada kesempatan kali ini kita akan kembali memberikan tutorial cara membuat tempat pensil dari botol plastik bekas dengan langkah-langkah yang lengkap dan disertai gambar.

Oh ya, sebelumnya kita juga pernah mempublikasikan cara pembuatan tempat pensil dari kotak bekas kemasan teh celup. Mungkin anda juga tertarik untuk mencoba membuatnya.

pembentukan dan persidangan BPUPKI

PEMBENTUKAN DAN PERSIDANGAN BPUPKI

1. Pembentukan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia)
Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dalam bahasa
Jepang disebut Dokuritsu Junbi Cosakai dibentuk oleh Jepang dan diumumkan oleh  Jenderal Kumakichi
Harada pada tanggal 1 Maret 1945.

Pada tanggal 28 April 1945 diumumkan pengangkatan anggota BPUPKI di Gedung Cuo Sangi In di
Pejambon Jakarta (sekarang Gedung Departemen Luar Negeri). Ketua BPUPKI ditunjuk Jepang adalah
dr. Rajiman Wedyodiningrat, wakilnya adalah Icibangase (Jepang), dan sebagai sekretarisnya adalah R.P.
Soeroso. Jumlah anggota BPUPKI adalah 63 orang yang mewakili hampir seluruh wilayah Indonesia
ditambah 7 orang tanpa hak suara.

a. Masa Persidangan Pertama BPUPKI (29 Mei–1 Juni 1945)
Masa persidangan pertama BPUPKI dimulai pada tanggal 29 Mei 1945 sampai dengan
1 Juni 1945 untuk membahas rumusan dasar negara untuk Indonesia merdeka. Pada persidangan
dikemukakan berbagai pendapat tentang dasar negara yang akan dipakai Indonesia merdeka. Pendapat
tersebut disampaikan oleh Mr. Mohammad Yamin, Mr. Supomo, dan Ir. Sukarno.

1) Mr. Mohammad Yamin (29 Mei 1945)
Pemikirannya diberi judul ”Asas dan Dasar Negara Kebangsaan Republik Indonesia” dan mengusulkan
dasar negara Indonesia merdeka yang intinya sebagai berikut:
a) peri kebangsaan;
b) peri kemanusiaan;
c) peri ketuhanan;
d) peri kerakyatan;
e) kesejahteraan rakyat.

2) Mr. Supomo (31 Mei 1945)
Pemikirannya berupa penjelasan tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan dasar negara
Indonesia merdeka. Negara yang akan dibentuk hendaklah negara integralistik yang berdasarkan pada
hal-hal berikut ini:
a) persatuan;
b) kekeluargaan;
c) keseimbangan lahir dan batin;
d) musyawarah;
e) keadilan sosial.

3) Ir. Sukarno (1 Juni 1945)
Pemikirannya terdiri atas lima asas berikut ini:
a) kebangsaan Indonesia;
b) internasionalisme atau perikemanusiaan;
c) mufakat atau demokrasi
d) kesejahteraan sosial;
e) Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kelima asas tersebut diberinya nama Pancasila sesuai saran teman yang ahli bahasa. Untuk selanjutnya,
tanggal 1 Juni kita peringati sebagai hari Lahir Istilah Pancasila.

b. Masa Persidangan Kedua (10–16 Juli 1945)
Masa persidangan pertama BPUPKI berakhir, tetapi rumusan dasar negara untuk Indonesia merdeka
belum terbentuk. Padahal, BPUPKI akan reses (istirahat) satu bulan penuh. Untuk itu, BPUPKI
membentuk panitia perumus dasar negara yang beranggotakan sembilan orang sehingga disebut Panitia
Sembilan. Tugas Panitia Sembilan adalah menampung berbagai aspirasi tentang pembentukan dasar
negara Indonesia merdeka. Anggota Panitia Sembilan terdiri atas Ir. Sukarno (ketua), Abdulkahar
Muzakir, Drs. Moh. Hatta, K.H. Abdul Wachid Hasyim, Mr. Moh. Yamin, H. Agus Salim, Ahmad
Subarjo, Abikusno Cokrosuryo, dan A. A. Maramis. Panitia Sembilan bekerja cerdas sehingga pada
tanggal 22 Juni 1945 berhasil merumuskan dasar negara untuk Indonesia merdeka. Rumusan itu oleh Mr.
Moh. Yamin diberi nama Piagam Jakarta atau Jakarta Charter. Naskah Piagam Jakarta berbunyi, seperti
berikut.

Piagam Jakarta
    Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di
atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan
selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang Negara Indonesia yang merdeka,
bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Atas berkat Rahmat Allah Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya
berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan menyatakan kemerdekaanya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan Indonesia itu dalam suatu hukum
dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang
berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam
bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan
kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta dengan
mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pada tanggal 10 sampai dengan 16 Juli 1945, BPUPKI mengadakan sidang kedua. Pada masa
persidangan ini, BPUPKI membahas rancangan undang-undang dasar. Untuk itu, dibentuk Panitia
Perancang Undang-   Undang Dasar yang diketuai Ir. Sukarno. Panitia tersebut juga membentuk
kelompok kecil yang beranggotakan tujuh orang yang khusus merumuskan rancangan UUD. Kelompok
kecil ini diketuai Mr. Supomo dengan anggota Wongsonegoro, Ahmad Subarjo, Singgih, H. Agus Salim,
dan Sukiman. Hasil kerjanya kemudian disempurnakan kebahasaannya oleh Panitia Penghalus Bahasa
yang terdiri atas Husein Jayadiningrat, H. Agus Salim, dan Mr. Supomo. Ir. Sukarno melaporkan hasil
kerja Panitia Perancang Undang-Undang pada sidang BPUPKI tanggal 14 Juli 1945. Pada laporannya
disebutkan tiga hal pokok, yaitu pernyataan Indonesia merdeka, pembukaan undang-undang dasar, dan
undang-undang dasar (batang tubuh).

pengertian norma

1. Norma agama 
             Norma agama merupakan sekumpula kaidah atau peraturan hidup yang sumbernya dari wahyu ilahi. nirma agama ialah aturan hidup yang harus diterima manusia sebagai perintah-perintah, larangan-larangan dan ajaran-ajaran yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. 
Contoh Norma agama ialah..
a. Melaksanakan ketentuan agama, seperti : membantu sesama manusia, menghormati orang lain, tidak semena-mena terhadap orang yang lemah.
b. Menjauhi larangan agama, seperti melakukan perjudian, minuman-minuman keras, mencuri, berbuat fitnah, membunuh, berbut  zina, berbuat riba;
c. Melaksanakan Sholat/ sembahyang, ibadah  tepat pada waktunya 
Gambar norma agama.

    



Rabu, 28 September 2016

cerita fantasi

HARRY POTTAnak-Yang-Bertahan-Hidup” adalah julukan bagi Harry. Anak dari pasangan James Potter dan Lily Evant ini mendapat julukan itu sejak bayi. Tepatnya ketika dia selamat dari kutukan kematian “Kau-Tau-Siapa”. Ya, Lord Voldemort, Pangeran Kegelapan itu, sudah lama mengincar si bayi Potter karena adanya ramalan bahwa dirinya kelak akan mati di tangan seorang anak dengan ciri-ciri sama dengan Harry Potter. Namun keajaiban terjadi. Kutukan kematian yang ditujukan kepada bayi itu tiba-tiba berbalik ke arah dirinya, hingga melepas jiwa sang pangeran kegelapan dan menghancurkan tubuhnya. Jiwa Lord Voldemort tetap hidup kesana kemari tanpa pijakan tubuh. Hingga akhirnya berhasil dibangkitkan kembali, meskipun dengan tubuh yang kurang sempurna, saat Harry Potter menjelang dewasa. Perburuan Sang Pangeran Kegelapan terhadap Harry Potter pun terus berlanjut.

Inilah latar belakang dari perjalanan panjang penuh tantangan dan ancaman kematian yang dialami Harry Potter. Bocah penyihir yang melegenda karena dianggap satu-satunya orang yang dapat membunuh Lord Voldemort. Di sinilah sebenarnya cerita besar itu dimulai. Cerita legendaris dari dunia antah-berantah.
Tentu saja cerita di atas tidak pernah benar-benar ada. Itu semua merupakan buah dari liarnya imajinasi J.K. Rowling, sang penulis novel yang jenius. Dunia yang diciptakannya nyaris sama sekali baru. Dia berhasil menciptakan dunia dengan kehidupan yang begitu kompleks. Penuh dengan kejaiban, misteri, tapi tetap membuatnya seolah natural, dengan adanya rutinitas yang rasional dan karakter-karakter tokohnya yang kuat.
Sulit sekali untuk tidak menyukai novel 7 seri ini, bahkan bagi orang yang kurang gemar membaca buku. Dari naskah aslinya yang berbahasa Inggris, kini telah diterjemahkan ke lebih dari 63 bahasa. Ratusan juta kopi buku telah terjual. Ini kesuksesan luar biasa dalam sejarah. Jelas buku ini akan melegenda di masa yang akan datang.
Kunci dari keberhasilan buku ini tentu saja karena kekuatan bahasanya dalam menciptakan kesan dan kemampuannya memuaskan pembaca. Penyajian konflik yang klimaks menjadikan pembaca merasa hasratnya terpenuhi. Alurnya tertata rapi dan mudah untuk menghubungkan satu kejadian dengan kejadian lainnya, meskipun pada awalnya nyaris semua kejadian tersebut sangat misterius. Ending yang tidak tertebak membuat pembaca “geleng kepala” saat selesai membaca.
Yang menjadi daya tarik buku ini pula adalah kemampuan penulis mendeskripsikan dunia fiksi yang diciptakannya dengan lugas dan jelas sehingga mudah diimajinasikan. Karakter tokohnya pun mudah dikenali dengan karakter dan bentuk fisik yang khas. Jadi, pembaca tidak perlu pusing seperti ketika membaca The Song of Ice and Fire (Game of Thrones) dengan begitu banyaknya tokoh di segala penjuru Seven Kingdom.
Dari tujuh seri yang sudah diterbitkan, sangat sulit untuk memilih yang terbaik. Itu semua karena konsistensi performa penulis yang brilian. Untuk kesuksesan besar ini, kita patut memberikan standing ovation untuk sang maestro: Joanne Kathleen Rowling.[21/5]

ER : LEGENDA BESAR DI DUNIA ANTAH BERANTAH

perkenalkan bahasa inggris

Good morning, My Friends.
I am so happy to see you in this occasion. Well, my name is Elsye Sitinjak. I come from Metro. I was born in Medan, on October 22th, 1992. My family and I live at Jengkol street number 25, Kedaton, Bandar Lampung. My hobby is singing and shopping. I really love music. Even, I have a dream to be a famous and great singer. I I ever won first winner in singing contest when I was 15 years old. Teaching is the other thing that I love. Since I study at English Department, I began to teach kids around my house. Besides that, I also join an Eso at the university. Eso is kind of  English Club. I learn many things from Eso. They teach me how speak fluently. I think English became very important nowadays. That is why I am very interested in learning English. I have two sisters and one brother. They are Dede Sintinjak, Jeni Sitinjak and Robi Sitinjak. I really love them. They really support my career. We often spend time together in the weekend. I think that’s all about myself. Thank you so much for your nice attention.
Assalamualikum. Wr.Wb.



contoh unggah ungguh boso

Basa iku minangka sarana kanggo komunikasi, kanggo nglantarake marang sawijining maksud utawa kekarepan marang wong sing diajak guneman. Basa uga dadi sarana kanggo nglairake panguneg-uneg kanthi cara nulis utawa maca. Mula anggone nggunaake basa kudu trep ora kena tumpang suh, kudu mangerteni marang sapa sing diajak guneman. Mula basa iku duweni unggah-ungguh. Dene unggah-ungguhing basa iku sabenere akeh banget nanging sing lumrah digunakake iku ana 4 yaiku:
1. Ngoko lugu
2. Ngoko alus
3. Karma lugu
4. Karma alus1. Basa Ngoko Lugu
Wujude: Tembunge ngoko kabeh ora ana kramane.
Panganggone:
a. Menyang sapadha-padha kang wis kulina banget.
b. Menyang sing kaprenah enom.
c. Yen lagi ngunandika.
d. Tumrap bocah sing durung bisa guneman ganep.
Tuladha:
– Kowe mengko sore sida ngampiri aku les?
– Dhik, yen arep ndelok pameran, aku mengko tulung ampirana ya!
2. Basa Ngoko Alus
Wujude: Tetembunge ngoko kacampuran karma inggil.
Panganggone:
a. Sedulur tuwa marang sedulur enom kang luwih dhuwur drajate.
b. Garwane priyayi marang sing kakung.
c. Priyayi marang priyayi yen wis ngoko-ngokonan.
Tuladha:
– Dhik, sliramu mengko nek kondur arep nitih apa? Apa kersa
takdherekake?
– Aku mau ngundhuh pelem akeh, Panjenengan apa kersa dakaturi?
– Yen kersa mengko dakaturi sejinah.
3. Basa Krama Lugu
Wujude: Tembunge madya (ater-ater lan panambange karma)
Panganggone:
a. Kanggo marang kanca sing wis kulina, padha drajate lan ngajeni.
b. Garwane priyayi marang sing kakung.
c. Priyayi marang sedulure tuwa kang luwih cendhek drajade.
Tuladha:
– Sampeyan niku manawi kesah dhateng kantor napa taksih kiyat mbekta
sepedha motor mas?
– Napa ndika saking desa ngriki mawon to mas?
4. Basa Krama Alus
Wujude: Tetembungan krama (ater-ater lan panambang krama)
lan krama inggil (tumrap wong sing diajak guneman).
Panganggone:
a. Wong enom marang wong tuwa.
b. Batur marang bendarane.
c. Murid marang gurune.
d. Andhahan marang pimpinane.
e. Kanca karo kanca sing durung kulina.
Tuladha:
– Kula badhe matur dhateng ibu, bilih manawi saestu sowan dhateng
eyang, kula badhe tumut.
– Tindak-tandukipun kanca kula ingkang naminipun Edo punika lucu
sanget.

NGOKO – KRAMA

I. Bebuka :
Tegese tembung ngoko, yen ditlusur saka tembung koko, oleh ater-ater ng-, tegese ngoko padha karo ngowe, kang tegese nyebut kowe marang wong sing diajak guneman. Kanthi mangkono, tembung ngowe /ngoko mengku teges ora nganggo pakurmatan.
Saliyane tembung ngoko, ana tembung krama sing mengku teges ngurmati utawa luwih ngajeni.
Tembung ngoko lan krama iku panganggone mengku karep werna loro, yaiku :
1. Kanggo nyebut jinising tembung :
a. Tembung ngoko : godhong, pari, klambi
b. Tembung krama : ron, pantun, rasukan
2. Kanggo nyebut tataraning basa miturut undha-usuke:
a. Basa ngoko : Aku arep lunga dhisik.
b. Basa krama : Kula badhe kesah rumiyin.
Adhedhasar katerangan ing dhuwur iku, tembung ngoko ora padha karo basa ngoko, semono uga tembung krama ora padha karo basa krama. Cethane maneh, tembung beda karo basa. Mung bae perlu dimangerteni yen tembung basa ing pasrawungan padha tegese karo tembung krama. Contone kaya ing ukara loro ngisor iki :
(1) Omonganmu sing keri kuwi basakna.
(2) Omonganmu sing keri kuwi kramakna.
II. Tembung Ngoko lan Krama
Adhedhasar undha-usuk panganggone, sing pokok basa Jawa dipilah dadi rong tataran, yaiku basa ngoko lan basa krama. Tembung – tembunge uga kaperang dadi rong werna, yaiku tembung ngoko lan tembung krama. Mung bae, amarga basa sing rong tataran iku isih bias dipilah-pilahake maneh, tembung krama sing dienggo uga bisa warna-warna. Ana sing diarani tembung krama madya, krama enggon-enggonan, krama desa, krama inggil, lan krama andhap. Ing perangan liya isih ana tembung ngoko, nanging ora werna-werna kaya tembung krama .
2.1 Tembung Ngoko
Tembung ngoko iku cacahe akeh dhewe ing antarane tembung-tembung liyane. Kejaba tembung thok sing ora ana kramane, tembung-tembung liyane sing dudu tembung ngoko mesthi ana tembung ngokone. Tuladhane, tembung krama abrit, dalu, lan sakit duwe tembung ngoko abang, bengi, lan lara. Semono uga tembung krama inggil sare, rikma, lan grana ana tembung ngokone, yaiku turu, rambut, lan irung. Saliyane iku, tembung kasar kaya modar, mbadhog, lan nyekek kang uga kalebu tembung ngoko.
Ana maneh tembung liyane sing uga kapetung tembung ngoko, yaiku tembung ngoko sing ora ana tembung kramane. Dadi tembung ngoko sing dikarepake iku uga dianggep minangka tembung krama. Gandheng karo kanyatan sing kaya kuwi diarani tembung ngoko krama utawa krama ngoko. Tuladha: tembung tempe, kamar, lan kewan, ngoko lan kramane padha bae.
Banjur apa titikane tembung ngoko kuwi? Ora kabeh tembung ngoko ana titikane. Mung saperangan bae sing bisa diterangake titikane adhedhasar wujude tembung iku sing katon. Upamane adhedhasar ater-ater (awalan) utawa panambang (akhiran) sing ana ing tembung iku. Lire, tembung-tembung sing oleh  ater-ater di-, panambang –(n)e, utawa –(k)ake lumrahe kalebu golongane tembung ngoko.
Conto :
dipangan                             sikile                          nulisake
dikongkon                           parine                         macakake
digawa                                wonge                         njupukake
Titikane tembung ngoko sing liyane rada angel diterangake amarga ana gandhenge karo dumadine tembung krama saka tembung ngoko iku. Cethane, akeh tembung krama sing dumadine amarga anane owah-owahan swara ing tembung ngoko. Mula saka iku, tembung sing durung ngalami owah-owahan swara iku bisa klebu golongane tembung ngoko.
2.2 Tembung Krama
Cacahe tembung krama mesthi bae luwih sethithik tinimbang cacahe tembung ngoko awit ora saben tembung ngoko ana tembung kramane. Kosok baline, saben tembung krama mesthi ana tembung ngokone. Kajaba iku, tembung ngoko-krama sing wilangane akeh banget uga kapetung golongane tembung ngoko.
Ora kabeh tembung krama bisa diterangake titikane. Mung saperangan bae sing bisa diterangake, upamane, adhedhasar tetenger ing ngisor iki:
(1) Ater-ater lan panambang
Kena dipesthekake yen tembung sing ole ater-ater dipun-, panambang –(n)ipun, utawa –(k)aken klebu golongane tembung krama.
Conto :
dipuntanem                griyanipun                      nilemaken
dipuntampi                 tiyangipun                      njagekaken
dipunkengken            sukunipun                      mbetahaken
Tembung-tembung ngoko-krama uga bisa diwuwuhi ater-ater utawa panambang iku amarga tembung kuwi pancen bisa dadi tembung ngoko lan bisa dadi tembung krama.
Conto :
dipunbedhol (bedhol; tembung ngoko-krama)
bukunipun (buku; tembung ngoko-krama)
nerangaken (terang; tembung ngoko-krama)
(2) Owah-owahan swara
Owah-owahan swara iku bisa diterangake kanthi njejerake tembung krama iku karo tembung ngokone. Tembung sing wis ngalami owah-owahan swara kalebu tembung krama, dene tembung sing dadi asale, sing durung owah, diarani tembung ngoko.
Conto :
Ngoko                         Krama
Ganti                            gantos
dina                              dinten
mlebu                           mlebet
maju                             majeng
pari                               pantun
kuna                             kina
susah                           sisah
gugu                             gega
buruh                            berah
obah                             ebah
2.3 Undha-Usuke Tembung
(1) Tembung krama
Yen diarani tembung krama ngono bae, sing dikarepake yaiku sakabehing tembung sing dadi kramane tembung ngoko. Saperangan bisa dititeni sarana titikan kaya sing wis diterangake ing dhuwur, dene tembung krama sing liyane ditemtokake adhedhasar panganggepe masarakat. Lire, sawenehing tembung iku diarani tembung krama apa dudu, sing nemtokake masarakat. Bisa uga sing ing kene dianggep tembung krama, ing liya panggonan dianggep dudu tembung krama. Mula saka iku, krama enggon-enggonan (dhialek) kaya kuwi uga klebu golongane tembung krama. Contone: mantun (rampung), tungkas (weling) , dhekeman (kedhele), lan kirangan (ora ngerti)
Klebu uga golongane tembung krama yaiku tembung-tembung sing diarani krama desa. Nitik saka arane, tembung-tembung iku lumrahe sing nganggo wong-wong desa, dudu wong weton sekolahan, utawa dudu kulawarga priyayi. Tembung-tembung sing wis krama malah dikramakake maneh, dene tembung sing kudune ora kena dikramakake uga dikramakake. Contone: tembung krama ajrih lan jawah dikramakake dadi ajros lan jawuh, dene jenenge panggonan Kaliurang, Semarang, Wonosari, Madura dikramakake dadi Lepenurang, Semawis, Wonosantun, lan Medunten.
Ana maneh tembung krama sing diarani krama madya. Masarakat akeh sing ngerti marang tembung iki amarga pancen kerep dienggo ana ing pasrawungan saben dinane, yaiku ing pasrawungan mardika sing ora kawengku ing kaanan resmi, tata cara, utawa paugeraning guneman sing kenceng. Mula ora nggumunake menawa tembung krama madya kuwi akeh sing awujud wancahan utawa tugelane tembung krama sing umum, sing dianggep luwih becik. Conto ing ngisor iki bisa aweh gambaran bab wujude tembung krama madya sing dikarepake iku lan tembung krama sing dianggep luwih becik.
Krama Madya                                                     Luwih Becike
onten                                                                 wonten
ampun                                                               sampun
teng                                                                   dhateng
engga                                                                 mangga
mawon                                                                kemawon
njing                                                                    benjing
jengen                                                                  kajengipun
seking                                                                  saking
ngeten                                                                  makaten
riyin                                                                      rumiyin
nggih                                                                     inggih
niki                                                                        punika (ngokone iki)
niku                                                                       punika (ngokone iku)
tesih                                                                      taksih
ajeng                                                                      badhe
kalih                                                                       kaliyan
samang                                                                   sampeyan
seg                                                                         saweg
ture                                                                         criyosipun (ngokone jare)
Adhedhasar andharan ing dhuwur, saora-orane ana telung golonganing tembung sing klebu ewone tembung krama, yaiku (1) krama enggon-enggonan (dhialek), (2) krama desa, lan (3) krama madya. Tetelune dianggep ora mathuk yen dienggo guneman ing basa Jawa sing samesthine awit ana tembung liyane sing dianggep luwih mapan lan luwih becik. Kanthi mangkono, yen tembung sing dianggep luwih mapan lan luwih becik iku diarani tembung sing baku, tembung sing telung golongan iku kena diarani tembung sing ora baku.
(2) Krama inggil
Wujude tembung krama inggil beda banget karo tembung krama. Lire, akeh tembung krama sing wujude bisa digathuk-gathukake utawa ana empere karo tembung ngokone, nanging yen tembung krama inggil babar pisan ora ana empere karo tembung kramane lan uga tembung ngokone.
Tembung krama inggil digunakake kanggo ngurmati utawa ngajeni wong sing pantes dikurmati utawa diajeni. Bab iki jumbuh karo anane tembung krama inggil, yaiku krama kanggo aweh pakurmatan marang wong sing dikarepake kanthi cara ngluhurake wong iku (inggil ; dhuwur, luhur). Mula saka iku, cacahe tembunge winates, upamane:
(a) Tembung kang mratelakake pakaryan : sare, dhahar, wungu, tindak
(b) Perangane awak : grana, asta, rikma, palarapan
(c) Tembung tata pernah : panjenengan, rayi, eyang